29 Sep 2015 08:51

Hidup Jangan Mengeluh Terus, Belajar Bersyukur dari Anak Papua

Yahukimo - Anak-anak Papua mungkin tidak seberuntung mereka yang tinggal di Jawa. Namun, walau anak Papua hidup sederhana, dari mereka traveler dapat belajar dan bersyukur akan nikmat kehidupan.

Ceria dan murah senyum, dua hal utama yang menjadi ciri khas anak-anak di Papua. Hidup sederhana dan apa adanya, anak-anak di Papua mengajarkan banyak ilmu hidup yang begitu berharga. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika menjumpai anak-anak Papua di Yahukimo bersama rombongan Mahakarya Indonesia pekan lalu.

Saat itu saya dan rombongan tengah trekking dari Desa Sogokmo menuju Desa Kurima. Ketika di tengah jalan, mendadak saya berpapasan dengan serombongan anak-anak yang menyusul dari belakang. Ternyata rumah mereka berada di desa yang menjadi tujuan rombongan.

Alhasil saya dan teman rombongan mendapat teman seperjalanan yang berumur jauh lebih muda, yaitu anak-anak desa sekitar. Dilihat dari penampilannya, anak-anak tersebut merupakan murid tingkat SD. Di antara mereka ada yang memakai seragam sekolah, ada juga yang tidak. Adapun mereka semua sama-sama bertelanjang kaki.

Sehari-harinya, anak-anak tersebut memang terbiasa berjalan beberapa jam dari rumahnya menuju sekolah. Tanpa alas kaki dan bermodalkan semangat, mereka melewati jalan berbatu untuk mengenyam pendidikan. Adapun mereka memiliki satu kesukaan yang sama.

"Gula-gula kakak," ujar bocah laki-laki bernama Ernest yang masih mengenakan seragam SD-nya.

Di Papua, gula-gula merupakan sebutan untuk permen. Hampir sebagian besar anak-anak akan meneriakkan kata pamungkas tersebut pada traveler yang lewat, tentu saja dengan senyum lebar dan tangan menengadah.

Ketika permen dibagikan, senyum kegembiraan pun terlukis lebar di wajah mereka. Siapa sangka kalau permen yang murah dan mudah dijumpai dapat memberikan kebahagiaan yang begitu besar. Sungguh senang rasanya, melihat ekspresi kegembiraan mereka.

Hal serupa juga saya temui ketika tiba di Distrik Mugi yang merupakan desa kecil di pertengahan jalan menuju Desa Kurima. Melihat saya dan rombongan, mendadak sekumpulan anak-anak yang tengah asyik bermain bola menyambut kami dengan sangat bersemangat. Tidak lupa anak-anak itu mengajukan pertanyaan sederhana.

"Kakak siapa? Dari mana?" tanya anak-anak itu polos.

Keceriaan itu pun berlanjut dengan acara foto bareng, di mana anak-anak tersebut sangat antusias. Tidak jarang mereka tertawa ketika melihat hasil foto mereka yang ditunjukkan oleh anggota rombongan. Usai berkunjung, tidak lupa saya dan teman rombongan memberikan beberapa kantung permen.

Agar semua kebagian, alhasil salah satu bapak penghuni Desa Mugi membagikan permennya secara merata. Tentunya tidak ada anak-anak yang mau ketinggalan gula-gula yang manis. Bahwa sejatinya kebahagiaan bisa datang dalam bentuk permen yang sangat sederhana. Sungguh traveler harus bersyukur akan indahnya hidup ini.